Dalam diri setiap manusia ada segumpal daging yang dinamakan hati. Ia merupakan landasan dari watak dan sifat seseorang. Baik dan buruk karakter seseorang tergantung dari hati yang dimilikinya. Bila hatinya baik maka baiklah dia. Demikian pula sebaliknya.
Watak dan sifat adalah dua hal yang berbeda, dan hati bisa membentuk keduanya. Sifat merupakan zat karakter. Ada hati yang dinamakan nafsun yang membentuk sidat. Sedangkan watak atau karakter adalah bawaan lahir yang tidak bisa diubah. Kalaupun lewat proses pembinaan yang baik, perubahaannya tidaklah seberapa.
Watak diturunkan secara genetik. Dan hati yang telah terbentuk oleh lingkungan kemudian mempengaruhi watak. Pembentukan watak bukan pada saat proses perkembangan jasmani seseorang, tapi dimulai sejak terjadinya pembuahan dalam rahim, yang diawali dari bertemunya sperma laki-laki dengan sel telur wanita.
Watak dan karakter seseorang dapat dilihat dari garis wajahnya. Keras atau tidaknya hati seseorang dapat terbaca dari air muka yang memancar. Orang yang pemarah maupun orang yang penyabar tergambar jelas pada garis wajahnya. Dan itu terlihat langsung tanpa memakai basyirotul qolbi. "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (Adz Dzaariyat: 20-21). Perintah membbaca sebagaimana dinyatakan dalam surat itu merupakan penegasan, bahwa anggota tubuh pun dapat dibaca oleh umat manusia. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al Israa': 14).
Setelah garis wajiah, ada pula garis tangan yang dapat dibaca. Karena pada hakikatnya garis tangan adalah juga tulisan (teks) yang dapat dibaca secara langsung tanpa memakai basyirotul qolbi. Letak geografis suatu daerah mempengaruhi watak dan karakter masyarakatnya. Seperti orang yang tinggal di daerah pesisir yang beriklim panas dan lingkungannya yang keras, rata-rata orang-orangnya juga memiliki karakter keras, yang kemudian melahirkan pula anak keturunan yang juga berwatak keras.
Dalam urusan memilih pasangan hidup, sangat penting memperhatikan soal bibit-bobot-bebet. Kualifikasi tidak sebatas bagus secara fisik, tapi sekaligus latar belakang spiritual. Dan orang yang kualitasnya baik untuk ketiga hal itu insya Allah memiliki gen yang baik, yang pada gilirannya akan menghasilkan keturunan yang baik pula. Karena orang yang semacam itu adalah orang baik dan bagus secara fisik maupun jiwa dan ruhaniahnya.
Bagi seorang wanita yang ingin menghasilkan keturunan yang baik, maka ketika hamil ia harus menjaga betul jiwa dan perangainya dan harus bisa menjadi wanita yang sholehah. Seperti misalnya bila ia bersuamikan seorang yang pemarah, ia jangan terpancing menjadi seorang yang pemarah pula. Seorang wanita sholehah adalah yang bisa menyejukkan hati suami, sekaligus pandai membangun semangat ketika sang suami sedang lesu. Ia juga bisa mempengaruhi sang suami sehingga menjadi laki-laki yang lebih sabar.
Karakter seorang anak tidak hanya dipengaruhi oleh perangai sang ibu. Karena hakikatnya, seorang anak adalah anugerah Allah SWT yang dititipkan pada tulang sulbi ayahnya. Seorang laki-laki yang temperamental akan menularkan emosinya yang tinggi pada sang anak. Bahkan, beberapa penyakit menurun seperti asma, biasanya diperoleh seorang anak dari bakat asma yang dimiliki ayahnya. Karena gen seorang laki-laki lebih dominan dan lebih berpengaruh terhadap anak keturunannya. Ibaratnya, seorang laki-laki adalah pembawa benih dan seorang wanita adalah ladang persemaian. Seberapa baik benih ditanam maka hasilnya pun tergantung dari perawatan ketika benih itu berkembang dalam ladang persemaian. Maka, agar menghasilkan keturunan yang baik, dibutuhkan bibit yang baik dari seorang ayah dan dibutuhkan pula perawatan yang baik saat berada dalam ladang persemain milik seorang ibu.
Dalam hadist dinyatakan bahwa Rasulullah SAW menghimbau umatnya agar memperbanyak keturunan. Tapi, tentu saja keturunan yang berkualitas baik secara priologis maupun spiritual, Makanya, beliau bersabda: "Perbanyaklah keturunan, sehingga kelak aku bangga di akherat, karena umatku yang berkualitas banyak."
Sifat seseorang bisa dibentuk atau dipola sejak gen seorang laki-laki dititipkan ke rahim seorang wanita. Dan proses kejadian seorang manusia melalui sari pati tanah, yakni 3 kali 40 hari usial kehamilan adalah saat di mana Allah SWT memasukkan ruh kedalamnya. Setelah ruh ditiupkan itulah kemudian dimulainya pembentukan sifat. Pembentukkan sifat tergantung dari watak seorang ibu. Sedangkan pembentukkan watak tergantung dari seorang ayah. Maka, seorang ibu yang baik, yang sayang pada anak yang dikandungnya, ketika hamil ia harus banyak berzikir dan banyak mengkaji nilai-nilai agama. Sehingga ia menjadi orang yang religius dan pandai mengendalikan emosi. Karena bila ketika hamil emosi seorang ibu kerap meledak-ledak, maka hal itu akan terekam oleh janin yang dikandungnya dan memberi pelajaran pada sang anak untuk menjadi seorang pemarah dan emosional. Sedangkan, kewajiab seorang suami ketika istrinya hamil, salah satunya adalah menjaga emosi sang istri agar tidak mudah marah.
Ketika wanita hamil jangan hanya sibuk membaca surat Yusuf agar anaknya tampan seperti Nabi Yusuf. Yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan banyak hal baik demi kepentingan pembentukan sifat diri anak itu sendiri. Dan ketika sang anak sudah lahir, maka dimulailah proses pengukuhan watak dan sifatnya. Maka sejak itu orangtuanya berkewajiban mengenalkan berbagai pejaran. Mulai dari pelajaran agama, budi pekerti yang baik hingga berbagai hal yang berhubungan dengan ketuhanan.
Di luar banyak nasihat baik yang wajib diajarkan, orang tua berkewajiban pula memberi contoh yang baik. Seperti misalnya tentang kepatuhan menjalankan ibadah ritual, hingga kepatuhan menjalankan berbagai ibadah sosial. Karena seorang anak lebih mudah mencontoh ketimbang menghafal sederet nasihat. Pembentukan yang baik yang di ajarkan pada seorang anak dari kecil melalui pelajaran agam, akan meminimalisir watak-watak yang buruk.
Orang tua yang baik adalah mereka yang pandai menyembunyikan konflik dari hadapan anak-anaknya. Dan tidak saling menjelekkan satu sama lain di hadapan anaknya. Karena bila seorang anak diajarkan untuk menjelek-jelekkan ayah dan ibunya, demi untuk menarik simpati sang anak , maka hal itu sama saja mencetak anak durhaka dan menjerumuskan kedalam neraka.
Tanggung jawab orang tua atas anak-anaknya memang tidak ringan. Tidak hanya sebatas tanggung jawab materi dan fisik saja. Tapi sekaligus meliputi tanggung jawab prosikologis dan spiritual. Dan tanggung jawab itu telah dimulai sejak sang anak dalam kandungan, hingga dewasa kelak.
Bekal untuk menjadi orang tua yang baik tentu saja memahami agama dengan baik, mematuhi rambu-rambu agama, dan memahami ilmu tauhid dan hakikat. Selanjutnya, istiqomah mempraktekkan ilmu tarekat yang diberikan oleh Mursyid, dan memperbanyak zikir. Agar terbentuk pribadi yang sholeh secara spiritual maupun sholeh secara sosial. Yang juga kalah pentingnya lagi adalah meminta bai'at kepada Mursyid yang sampai silsilahnya kepada Nabi Muhammad SAW yang tarekatnya disebut muktabaroh, artinya yang legal menurut Islam. Dan tarekat yang demikian cirinya adalah zikir selalu Laailaha Ilaa Allah. Sebelum zikir diawali sholawat membaca Al fatihah sebagai tawaul kepada guru-gurunya. Ta'dzim. taslim, dan beradab dengan adab yang baik.
Ref : Kitab Ihya & Siarussalikin karya Imam Ghazali yang di kaji oleh Maulana Hizboel Wathoni
Ref : Kitab Ihya & Siarussalikin karya Imam Ghazali yang di kaji oleh Maulana Hizboel Wathoni
No comments:
Post a Comment